HOT LEMON TEA

http://indiaayurvedaonline.com

Jalan menuju Ciwangun Indah Camp ini cukup ekstrim karena lokasinya berada di kaki Gunung Burangrang. Udaranya dingin menggigit. Apalagi pada musim kemarau panjang seperti sekarang ini. Namun pemandangan alamnya yang sangat eksotik merupakan pilihan yang tepat untuk menggelar kegiatan outdoor seperti camping.

Naya melepaskan ketegangan perjalanan yang baru saja dilaluinya. Perempuan mungil berkerudung motif bunga itu duduk bersandar pada sebuah bangku panjang di bawah pohon kayu putih yang meranggas. Di depannya terdapat kios-kios yang menawarkan aneka jajanan dan minuman dingin maupun panas.

“Bu, saya minta hot lemon tea 1 yah!” ujar Naya pada salah satu penjaga kios.

Sambil menunggu minuman favoritnya datang, Naya melihat ke arah lapangan yang cukup luas di bawah sana. Sepertinya itu adalah tempat yang telah disediakan untuk Naya dan rekan-rakan nya berkegiatan selama 2 hari ke depan. Ada 8 buah tenda yang telah dipasang oleh pengelola tempat itu.

“Ini hot lemon teanya, Teteh. Lemon dan Tehnya produk lokal di sini, jadi masih fresh. Silahkan,” perempuan pemilik kios itu tersenyum sambil mengangguk ramah dan segera berlalu dari hadapan Naya.

Rasa hangat dan segar hot lemon tea yang mengalir di tenggorokan Naya, sedikit mengusir hawa dingin di pagi itu. Naya menghela napas, mengusir sesak yang tiba-tiba saja hadir bersama hot lemon tea favoritnya. Naya mengenang dirinya yang meninggalkan Wira dan hot lemon teanya tanpa kata di tempat ini. Lima belas tahun yang lalu.

“Jadi apa rencanamu setelah lulus SMA Nay? Bentar lagi UN lho….”

Saat itu Wira memecah kebisuan di antara mereka.

“Rencana ku masih tetap, Kang…”

Naya  menatap kepulan asap hot lemon tea di hadapan mereka.

“Kerja?” Wira menyelidik.

Naya mengangguk pelan.

“Hhmmmm…” Wira menghela napas sebelum melanjutkan kata-katanya. “Aku mau kamu kuliah, Nay. Nanti biayanya akang bantu.”

Naya menggeleng.

“Aku sudah bicara sama Bapak. Bapak nggak sanggup untuk biayain aku kuliah sekalipun Akang bantu.”

“Terus kamu iya aja gitu?” suara wira meninggi.

“Ya terus aku harus gimana atuh?” Naya menunduk.

“Usaha atuh, Nay!”

Wira menggeser duduk nya dan meraih tangan Naya penuh harap.

“Lihat aku, Nay!”

Naya mengangkat wajah ovalnya dan menatap laki-laki bertubuh tegap di hadapannya. Tapi kemudian Naya menunduk lagi. Ia mencoba menerka untuk apa sebenarnya Wira mengajaknya ke tempat ini.

“Semua keluargaku sarjana, Nay. Aku, adik, kakak, sepupu-sepupuku. Lalu apa kata mereka nanti?”

Lemon tea di hadapan mereka nyaris tumpah,Naya menarik tangan nya dari genggaman Wira dengan kesal,bukan kali ini saja Wira bicara seperti itu

“Jadi gimana Nay…..?”suara Wira masih penuh harapan

“Akang tahu latar belakang ekonomi keluarga aku,bisa tamat SMA saja aku akan sangat beruntung”ucap Naya sedih

“Terus apa yang bisa kamu lakukan dengan izazah SMA kamu Nay…?”

”jadi buruh pabrik gitu?”suara Wira berubah sinis.

“Emang kenapa kalau aku jadi buruh pabrik?” kali ini Naya menatap tajam ke arah Wira.

”Akang malu atuh, Naaayyy,” Wira menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kalimat terakhir wira meruntuhkan ketabahan Naya. Tubuh mungilnya berguncang menahan isak. Naya beranjak meninggalkan Wira yang terpaku dan membiarkan hot lemon tea nya membeku.

Sejak peristiwa itu, Naya nyaris tidak pernah bertemu Wira lagi. Naya hanya berteman dengan kalimat-kalimat yang pernah diucapkan Wira. Hot lemon tea yang setia mengantarkan Naya pada dunia nya sekarang. Jika Allah mengizinkan, 3 semester lagi Naya, yang merupakan aktifis berbagai organisasi dan pegiat literasi, akan mengenakan toga didampingi 3 laki-laki terhebat yang melengkapi hidupnya sepeninggal bapak yang dicintainya. Ketiga laki-laki itu adalah suami dan kedua buah hati yang selalu menerima istri dan ibu mereka dengan apa adanya.

Hot lemon tea nya udah berubah nama, Ceu… Jadi ice lemon tea,” suara seseorang membuyarkan lamunan Naya.

“Heyyyy!!! Itu minumanku. Mau dibawa ke mana?” Naya beranjak mengejar lemon teanya yang dibawa kabur Galih ke meja registrasi.

“Yaaaa beneran dingin, Lih,” Naya cemberut.

“Yang penting masih lemon tea. Nggak berubah jadi bajigur. Panas atau dingin, nikmati saja!” Galih rekan kerja Naya yang usil menyeringai nakal.

Nia Kurniasih

Pengelola Perpusdes Cibodas, Kabupaten Bandung Barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: