Surat Perjanjian Abah (1)

http://www.mediaapakabar.com

Di bawah pohon kamboja yang rindang, tampak seorang gadis duduk sendirian. Punggungnya agak membungkuk. Kedua tangannya yang saling menggenggam, dia letakkan di atas pahanya. Menggenggam erat sekali, sampai agak bergetar. Wajahnya kuyu, sendu menandakan kesedihan yang mendalam. Matanya berlinang, air menggenang di pelupuk matanya. Air bening itu tak sekedar menggenang, sudah menggelayut, hanya tinggal menunggu waktu untuk jatuh.  Satu…. Dua… Tiga… dan benar saja, air mata itupun jatuh. Satu…. Satu…. Satu… kian lama semakin deras mengucur.

“Teganya kamu, Kang! Kamu jahat, Kang!” teriaknya dengan suara yang agak tertahan, sambil sesenggukan. Gadis itu berusaha keras mengendalikan emosinya. Badannya jadi semakin membungkuk. Bahkan dahinya hampir menyentuh lututnya.

“Apa salahku? Kamu minta dibuatin lotek, udah aku buatin,” katanya perlahan.

“Kamu minta aku nggak pergi kemana mana, aku udah ikutin,”katanya lagi masih dengan sesenggukan. Yang seketika terdiam ketika tiba-tiba ia mendengar seorang perempuan memanggil namanya.

“Eeeeuiiiiis….  Eeeeeuiiiis…..,”

Dia diam saja, enggan menjawab. Dia justru berusaha ‘mengecilkan’ badannya, yang sudah kecil itu, agar tidak dapat dilihat oleh temannya. Dia juga berusaha menghentikan tangisnya. Ia sama sekali tak mau ketahuan. Tapi, ternyata semua usahanya itu sia-sia. Bajunya yang berwarna merah menyala yang menjadi penyebabnya. Perlahan namun pasti terdengar suara langkah kaki mendekatinya.

Euis, nuju naon di dieu?” tanya gadis kurus, berambut panjang, dikepang dua itu dengan wajah heran. Dan semakin heran saat ia melihat mata sembab Euis.

Halah……. Kunaon socana meuni bereum?” tanyanya dengan penuh ingin tahu.

Abdi teu nanaon,” jawab Euis sambil mengusap matanya.

Toslah entong ngabohong,” kata gadis itu lagi sambil berjalan kemudian duduk di dekat Euis. Matanya tertuju ke secarik kertas yang ada di tangan kanan Euis. Sadar dengan yang sedang dilihat Entin, Euis berusaha menyembunyikan kertas berwarna agak kekuningan itu di balik genggaman jari-jari kurusnya. Tapi Entin tidak percaya. Dengan sedikit memaksa, ia meminta Euis untuk menyerahkan kertas itu, “cing… abdi ningal”.

Entong ah, isin,” kata Euis sambil menyembunyikan kertas itu di belakang punggungnya. Entin semakin penasaran. Ia ingin tahu apa yang membuat Euis sampai menangis, padahal sehari-hari dia anak yang ceria.

“Apa kamu dimarahi mamah?” tanya Entin dengan pelan sambil mengusap punggung Euis. Euis menggelengkan kepalanya perlahan.

“Apa abah yang marah-marah ke kamu?”

Kembali Euis menggelengkan kepalanya.

“Terus kenapaaaa? Apa kamu sakit?” tanya Entin sambil meletakkan punggung telapak tangan kanannya ke dahi Euis.

“Dahimu nggak panas,” kata Entin sambil mengangkat tangan kanan.

“Terus kenapa atuh, hayu ngomong Euis,” kata Entin mulai kehilangan kesabaran. Dia bersiap akan beranjak.

“Eemmm..,” perlahan terdengar suara Euis. Segera saja Entin menghentikan niatnya. Dia kembali duduk di dekat Euis. Matanya menatap ke Euis menaruh harap Euis segera melanjutkan omongannya. Rupanya Euis menyadari hal itu.

“Emmmm…  Aku … aku… baru aja diputus sama Kang Asep…,” katanya dengan perlahan dan suara bergetar, seperti menahan tangis. Matanya berlinang dan kian basah hingga akhirnya Euis tidak bisa menahan tangis.

“Gimana bilangnya?” tanya Entin dengan penasaran.

“Nggak bilang,” jawab Euis perlahan. Wajah Entin tampak bingung.

“Lah, gimana kamu bisa tau?” tanyanya lagi.

Euis tidak menjawab, dia membuka kepalan tangan kanannya. Hingga perlahan nampak gumpalan kertas. Entin segera mengambil kertas itu, membukanya, dan membacanya. Euis melihat wajah Entin dengan penuh rasa ingin tahu. Namun tiba–tiba, Entin tertawa terbahak – bahak. Euis tampak bingung.

“Euis, apa kamu sudah baca surat ini?” tanya Entin sambil menjulurkan surat itu. Euis tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala. Sambil keheranan, Entin bertanya lagi.

“Terus, kok kamu bisa tahu ?”

“Aku diberitahu oleh Uwi. Dia yang baca,” jelas Euis perlahan.

Entin mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian, “Ha…..ha…..ha…… Euiiiiis, kamu dibohongi oleh Uwi.”

“Haaaaah!” Euis kaget. Matanya membelalak. Dia segera mendekati Entin.

“Jadi aku nggak diputusin Kang Asep?” tanya Entin dengan nada yang sedikit gembira, meskipun masih kurang percaya.

“Enggak, Kang Asep mu malah pengen ketemu,” jawab Entin sambil menunjukkan barisan kata di surat .

“Awas ya Uwi! Ayo kita ke Uwi,” ajak Euis sambil menarik tangan kanan Entin. Entin hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Euis. Mereka segera menuju ke pekarangan belakang rumah Uwi.

******

Dari kejauhan terdengar riuh suara tawa anak anak perempuan. Ya, mereka sedang melakukan cingciripit, cara anak anak untuk menentukan siapa yang jadi kucing di permainan Ucing Sumput. .

Mereka berkumpul membentuk lingkaran. Seorang anak perempuan dengan wajah bulat dan badan sedikit gemuk, duduk di tengah. Dia membuka telapak tangan kirinya, kemudian satu persatu anak meletakan jarinya di tangan tersebut. Selanjutnya bersama sama mereka menyanyikan lagu berikut.

Cing ciripit Tulang bajing kacapit
Kacapit ku bulu paré
Bulu paré sesekeutna
Jol pa dalang mawa wayang
Jrék-jrék nong, Jrék-jrék nong.

“Awas, euy,” seru seorang anak perempuan, ketika lagu di atas hampir berakhir. Semua anak segera berkonsentrasi. Sebentar lagi lagunya berakhir, mereka  bersiap-siap untuk mengangkat jari telunjuknya. Mereka tidak mau jarinya tertangkap oleh telapak tangan yang akan menutup dengan cepat dan tiba-tiba.

Hap……!  telapak tangan itu menutup. Ada satu telunjuk yang tertangkap

“Akh….  Aku kena,” kata perempuan dengan rambut diikat ekor kuda dengan nada kecewa. Teman-temannya tertawa. Mereka senang tidak menjadi ‘kucing’ yang harus menutup matanya, kemudian mencari posisi tempat persembunyian teman – temannya.

Cepet Neng, buru ka tembok!” seru anak perempuan yang berbadan sedikit gemuk.

Entong ningal nyak…!” kata anak perempuan yang lain sambil berjalan mengendap mencari lokasi persembunyian.

Anak perempuan itu segera menutup matanya dengan kedua tangannya, kemudian menyandarkan ke tembok pagar. Dan anak anak yang lain segera menyebar, mencari persembunyian. Ada yang di balik rimbunnya tanaman, naik ke atas pohon, di belakang tembok, dan di bawah meja. Mereka diam, tidak bergerak dan menutup mulut, agar tidak bisa ditemukan.

Tiba-tiba terdengar suara yang membuyarkan sepi. Segera saja anak–anak itu menoleh ke asal suara, dengan tetap diam tentunya. Tak bergerak, tak bersuara.

“Uwi…. Uwi….. Uwi…….,” teriak Euis datang dengan tergopoh gopoh. Tangannya masih menggandeng tangannya Entin, yang nampak kelelahan. Matanya segera menyapu ke seluruh bagian. Sekelebat ia melihat bayangan di balik pohon mangga yang ada di pojok pekarangan. Euis hafal sekali dengan pemilik bayangan itu. Ia segera menuju ke pohon itu. Dengan bergegas.

“Uwi!!!!” segera saja ia menarik tangan anak perempuan berambut dikepang dua itu.

Ihh, aya naon ieu?,” katanya dengan ya bingung, sambil menggerak-gerakkan tangannya, berusaha melepaskannya dari pegangan erat tangan Euis.

Aya naon… aya naon… Eta naon maksud na?” tanya Euis sambil menunjukkan kertas buram ditangannya. Wajahnya tampak kesal. Gadis berkepang dua, yang dipanggil Uwi itupun melihat ke arah kertas. Wajah bingungnya seketika berubah. Ada senyum kecil. Dengan tenang ia berkata, “Memang kenapa dengan kertas ini?” tanyanya tanpa rasa bersalah.

Anak-anak perempuan yang awalnya bersembunyi, satu persatu keluar dari persembunyiannya. Mereka mendekat ke tempat Euis, Uwi dan Entin.

“Kamu bohongin aku ya? Kamu bilang kalau aku diputusin padahal eng …gak!”

“He………he…… He…,makanya belajar baca. Biar nggak dibohongi,” kata Uwi dengan tenang sambil berusaha melepaskan tangannya. Euis melepaskan pegangan tangannya ke Uwi.

“Iya….  Kamu mesti latihan baca,” sahut Entin yang dari tadi mendengarkan pembicaraan antara Euis dan Uwi. Euis terdiam.

“Iya… Aku juga ingin sekali bisa baca. Biar nggak dibohongi kamu lagi.”

Uwi hanya nyengir kecil mendengarnya.

“Nanti aku bilang dulu ke abah dan mamah nyak, kuatir nggak boleh,” kata Euis.

“Kalau kamu mau ikut, besok datang ke sini lagi,” kata Uwi sambil menepuk punggung Euis perlahan.

“Jangan lupa bawa arang dan potongan genteng ya,” seru Uwi sambil berjalan ke tengah pekarangan. Dan berteriak, “Ayo kita main lagi.”

*************

Keesokan harinya. Beberapa anak perempuan kembali berkumpul di pekarangan rumah Uwi. Ada sekitar sepuluh anak. Tapi kali ini mereka tidak berlari lari main ucing sumput melainkan duduk rapi di lantai, beralaskan tikar. Di tangan kiri mereka ada genteng warna merah bata. Dan tangan kanan mereka memegang arang hitam. Di dekat tempat mereka duduk, ada kain bekas yang warnanya sudah tak jelas lagi.

“Coba lihat ke depan. Sekarang kita akan menulis huruf I. Coba ikuti cara menulisnya,” kata Uwi yang berdiri di depan anak-anak perempuan itu. Lagaknya seperti guru yang sudah berpengalaman. Uwi memegang arang dengan tangan kirinya. Ia lebih banyak menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya pernah patah, saat ia terjatuh. Ini akibat tingkahnya yang tidak bisa diam. Meskipun keturunan ningrat, namun kelakuan Uwi tidak lemah lembut, seperti umumnya perempuan ningrat. Uwi sangat aktif.

“Tarik garis dari atas sampai ke bawah. Ini huruf I. Bisa?” kata Uwi sambil memberi contoh. Dengan menggunakan arang sebagai alat tulisnya dan papan bekas sebagai papan tulisnya. Sesekali Uwi melihat berkeliling untuk memeriksa hasil pengerjaan ‘murid-muridnya’.

“Bukan begini pegang arangnya. Ini salah. Begini cara pegangnya,” kata Uwi sambil memegang tangan kanan seorang anak perempuan, kemudian mengajarinya memegang arang dengan benar. Serta menggoreskannya ke pecahan genteng.

“Semua sudah bisa?” tanya Uwi sambil melihat ke teman-temannya, satu persatu.

“Sudah! Sudah!” jawab mereka bersautan.

“Sekarang, kita menulis huruf B. Lihat ya. Tarik satu garis seperti tadi. Terus diberi perut kecil, Buat garis lengkung seperti ini,” Uwi kembali memberi contoh dan teman –temannya mengikuti dengan gembira.

“Aku bisa!” teriak anak perempuan yang duduk di barisan paling depan. Uwi menoleh ke arahnya, sambil tersenyum. Kemudian dia kembali berjalan berkeliling.

“Wi….. kumaha ieu?” terdengar suara pelan, seperti berbisik.

Uwi mencari asal suara. Ia menoleh ke kanan kiri, berputar, tapi tak nampak sosok sumber suara. Hingga sekilas ia melihat ada gerakan kecil di pojok pekarangan, di dekat tumpukan potongan kayu bakar. Dia mengrenyitkan matanya, berharap dapat melihat sosok itu dengan lebih jelas. Namun tetap saja hanya nampak samar. Rasa penasarannya semakin bertambah, sehingga dengan perlahan dia berjalan ke tempat itu. Selangkah demi selangkah.

“Eh, kok kamu ada di sini?” tanya Uwi perlahan.

“Sssst….!” katanya sambil menarik tangan Uwi. Sehingga Uwi duduk berjongkok di dekatnya. “Jangan keras – keras! Takut nanti ketahuan,” katanya lagi. Uwi jadi kebingungan. Ia tidak paham.

“Takut ketahuan sama siapa?” Uwi kembali menoleh ke kanan kiri, ke segala penjuru, mencari sosok yang dimaksud. Tapi tak ada siapa-siapa.

“Euiiiiiss! Euiiiiissss!” terdengar suara keras. Tampak sosok kekar dengan memakai baju pangsi hitam, lengkap dengan ikat kepala warna coklat.

“Wi, cepet ke sana! Jangan bilang kalau aku ada di sini. Nanti bapakku marah. Bapakku nggak mau kalau aku belajar di sini,” kata Euis sambil mengibas-ibaskan telapak tangan kanannya seakan meminta Uwi untuk segera meninggalkan dirinya.

Perlahan Uwi beranjak dari jongkoknya kemudian berjalan perlahan mendekati ayahnya Euis. Ia berusaha agar tampak tenang, walaupun sesungguhnya sangat takut. Jantungnya berdegub kencang. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya, satu persatu.

“Abah, abah mencari siapa?” tanya Uwi dengan suara perlahan.

“Mana Euis? Dia pasti ada di sini,” seru ayah Euis sambil melihat ke segala arah, mencari Euis.

“Tidak ada di sini. Mungkin sedang ke kebun atau sedang mencuci di sungai,” jawab Uwi sambil menggerakkan tangannya memperagakan gerakan tangan orang yang sedang mencuci baju.

“Abah, maaf, kenapa Euis nggak boleh belajar di sini?” tanya Uwi memberanikan diri.

Ach ieu teu penting, Sebentar lagi Euis harus nikah. Yang penting dia bisa masak, beres beres, menyenangkan suami. Itu sudah cukup. Kalau Euis belajar, nanti dia jadi pinter, nanti dia nggak mau ngurus rumah. Nanti dia nglawan suami,” jawab ayah Euis.

Uwi hanya bisa terdiam mendengar jawaban itu. Dia tidak membantah, walaupun dalam hatinya, ia sangat ingin membantahnya.

Kini, ia menjadi paham mengapa masih banyak orang tua yang tidak membolehkan anak perempuannya belajar. Mereka takut anak perempuannya itu berubah karakternya.

Penjelasan ayahnya Euis, tidak memadamkan keinginan Uwi untuk memintarkan perempuan perempuan di sekitarnya. Penjelasan abahnya Euis itu justru memacu semangatnya. Uwi tidak mau hanya dia yang bisa membaca, menulis, berhitung, berbicara bahasa Belanda, tahu sopan santun, dan berwawasan luas. Uwi tetap ingin membantu teman-temannya menjadi perempuan yang hebat.

Dia akan memajukan perempuan di sekitarnya menjadi perempuan yang cerdas dan berakhlak mulia. Punya banyak pengetahuan dan tetap peduli dengan keluarga. Pengetahuannya untuk membuat keluarganya berdaya, bukan sebaliknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: