KEGIATAN RESIDENSI PEGIAT LITERASI TAHUN 2019 DI SUMEDANG

dokumentasi pribadi penulis

“Bosen ga sih diem mulu di rumah?”

“ya bosenlah! Mau main nggak punya duit. Mau minta duit malu. Nggak minta duit mati.”

percakapan antara sisi hati saya dan sisi hati satunya yang mulai gerah dengan segala rutinitas pengangguran ini. Seakan-akan Tuhan mendengar celoteh keluhan saya, datanglah secerca harapan yang akhirnya membuat saya dapat keluar dari rutinitas yang membosankan ini.

Berawal dari Pak Abdul Kholik, ketua Taman Bacaan Masyarakat Arjasari, yang menawarkan saya untuk menjadi perwakilan sebagai relawan dalam kegiatan Residensi Pegiat Literasi Tahun 2019 di Sumedang. Saya memutuskan untuk menyetujui tawaran tersebut dengan senang hati.

Mendengar kata Sumedang, yang terlintas dalam pikiran saya adalah tentang kenangan masa lalu saya saat masih dalam masa perkuliahan. Memori kenangan itu muncul kembali. Saya sangat antusias mengikuti kegiatan Residensi Pegiat Literasi.

Hello Sumedang! See you later.

Perjalanan hari pertama menuju lokasi kegiatan Residensi Pegiat Literasi saya tempuh menggunakan jalur darat dengan ojek online dari Arjasari ke Moh. Toha. Perjalanan dilanjut dengan menggunakan Bus Damri menuju Jatinangor dengan tarif sepuluh ribu rupiah.

Selanjutnya, dari Jatinangor ke dinas pendidikan kabupaten Sumedang yang terletak di daerah Tegal Kulon. Ada beberapa alternatif kendaraan umum untuk sampai Sumedang. Pertama menggunakan angkot 04 jurusan Cileunyi-Sumedang dengan warna angkot coklat. Tarif ongkos menggunakan angkot sampai Sumedang kota adalah sepuluh ribu rupiah. Alternatif kedua menggunakan bus dengan fasilitas yang lebih nyaman dan ongkos sebesar lima belas ribu rupiah. Pilihan lainnya yaitu dengan menggunakan elf yang biaya ongkosnya sama dengan tarif angkot, yaitu sepuluh ribu rupiah.

Saya memilih pilihan terakhir untuk menuju Tegal Kulon. Dengan tarif yang sama seperti angkot, waktu tempuh elf lebih cepat. Ini bisa mengurangi waktu perjalanan yang sudah sangat panjang. Dengan elf, lama perjalanan dari Arjasari menuju titik kumpul di Dinas pendidikan Kabupaten Sumedang adalah 3 jam 30 menit.

Kemudian kami, para peserta yang telah sampai di titik kumpul, kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi Kampung Literasi “Lembur Calakan Burcak Burinong” dengan menggunakan mobil jemputan yang telah disediakan oleh panitia. Track yang kami lalui membuat adrenalin meningkat, semakin lama semakin jauh, sepi, dan akses jalan semakin jelek.

Awalnya pemandangan sepanjang perjalanan adalah rumah-rumah warga sampai akhirnya melalui jalan dengan pemandangan kanan kiri jalan adalah pepohonan yang lebat seperti memasuki kawasan hutan. Sekitar satu jam kemudian kami sampai di dusun Cisema yang sejauh mata memandang terhampar luas waduk Jatigede dan warna warni atap rumah warga. Mulut ini tidak pernah berhenti mengatakan kekaguman dan hati yang banyak bersyukur dari indanya kampung literasi ini. Seketika rasa lelah yang tadinya mendominasi dipikiran melebur dengan rasa kagum.

Aroma semangat dari kampung literasi tercium jelas saat kami mulai memasuki kawasan kampung literasi. Saat kami memasuki kawasan Kampung Literasi “Lembur Calakan Buricak Burinong” terdapat TBM Maharani dekat yang lokasinya dengan basisir Jatigede. TBM ini berdiri sejak April 2018 dan dikelola oleh Teh Nining sebagai ketua TBM Maharani.

Sekedar info, Lembur Calakan Buricak Burinong merupakan bahasa sunda. Lembur yang berarti kampung, calakan yang artinya pintar atau cerdas, dan buricak burinong yang memiliki arti kerlap kerlip atau gemerlap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kawasan ini merupakan desa atau kampung dengan masyarakat yang aware terhadap pengetahuan yang menjadikan kampung tersebut gemerlap dengan pengetahuan.

Saya yang sudah 4 tahun tinggal di Jatinangor dan satu bulan di Sumedang tidak pernah menyangka terdapat tempat yang begitu mengagumkan di Sumedang. Nusa Tenggara Timur, yang potretnya sering saya lihat di internet, kini ada di depan mata saya. Ya Cisema rasa Nusa Tenggara Timur, dengan hamparan air yang luas dan di tengahnya terlihat sisa puncak bukit yang tidak terendam sehingga terlihat seperti pulau pulau kecil yang nampak pada hamparan lautan yang luas.

Kedatangan kami langsung disambut ramah oleh suasana khas desa Cisema. Nampak warung-warung makan berjajar rapi di pesisir waduk Jatigede. Sebuah pendopo yang dihias dengan meriah sudah ramai dengan orang-orang. Ya di sinilah kami akan melaksanakan kegiatan untuk empat hari ke depan.

Kegiatan hari pertama adalah pembukaan kegiatan Residensi Pegiat Literasi Tahun 2019 yang dibarengi dengan kegiatan penandatanganan nota kesepahaman tentang kabupaten Sumedang sebagai kabupaten literasi oleh Bupati Sumedang, Bapak H. Donny Ahmad Munir, S.T., M.M., dan Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini dan Dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Ir. Harris Iskandar, Ph.D. Iringan musik daerah Sunda semakin membuat suasana kegiatan menjadi asri dan mengingatkan kami sedang berada di tanah Sunda, tanah Pajajaran.

Di sela-sela kegiatan pembukaan Residensi Pegiat Literasi tahun 2019, Sekretariat Daerah Kabupaten Sumedang, Bapak Drs. H. Herman Suryatman, M.Si, mengajarkan sebuah tembang Sunda yang beliau buat bersama mantan rektor Universitas Padjadjaran, Bapak Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA, yang liriknya sebagai berikut :

“Tandang-tandang najan sorangan”

“Teneung ludeng moal rek ringrang”

“Ieu kuring urang sumedang”

“Hey langit gera saksian”

“Insun medal rek bajuang”

“Sangkan sunda seungit yambuan”

Lirik lagu tersebut memiliki makna kita sebagai urang Sumedang harus gagah berani bertanding dalam berjuang walau hanya seorang diri. Tidak akan pernah takut dan khawatir. Disaksikan oleh langit, kami akan berjuang keluar agar Sunda harum mewangi.

Lagu yang asing di telinga ini seolah-olah langsung merasuki pikiran dan melebur dalam rasa. Diiringan dengan alat musik tradisional Sunda, semakin membuat lagu ini mudah diingat dan terngiang-ngiang dalam pikiran. Semangat positif yang ditularkan Bapak Setda langsung merasuki raga kami yang juga menjadi tambah bersemangat untuk melaksanakan kegiatan Residensi Pegiat Literasi ini.

Setelah acara pembukaan, kami istirahat di warung yang di depannya terdapat tempat lesehan dari bambu dan disuguhkan dengan makanan khas Sunda yaitu suuk dan singkong goreng. Hari semakin gelap, kegiatan kami lanjutkan dengan acara perkenalan sesama perserta dan panitia.

Perserta terdiri dari 20 provinsi di Indonesia dan peserta yang hadir berjumlah 11 orang. Dua peserta pertama yang saya kenal sejak awal bertemu di tempat titik kumpul kemarin adalah Winda dari TBM Nurul Fatah dan Dian Vera dari TBM Rumah Ilmu dari Kabupaten Semarang. Mbak Yuan Dara perwakilan dari SKB Jombang, Ibu Lina perwakilan dari SKB Sukabumi, Supriyadi perwakilan SKB Tanjungsari, Ryan perwakilan dari Indramayu, Kang Atet Awaludin perwakilan dari TBM mentari Fajar Bali, Bapak Sunjaya perwakilan dari SKB Kota Serang, PKBM Ragasakti Cirebon, TBM Pengayom yang dikelola oleh Apu Syaipudin dan saya Ulfah Nasti Wiliastuti perwakilan dari TBM Arjasari Kabupaten Bandung.

dokumentasi pribadi penulis

Waktu menunjukan pukul 20.00 WIB. Kami mobilisasi menuju Home stay yang berada di pemukiman warga. Kami, kelompok peserta perempuan, tinggal di rumah ibu Mamah dan Bapak Kemel. Beliau menyambut kami dengan ramah. Selama tiga hari ke depan kami akan tinggal di rumah ini.

Ada materi yang sangat menarik di hari kedua yaitu tentang “Cipaku Tempo Dulu”. Ada apa di Cipaku tempo dulu? Semua akan dikuak oleh bapak Yaya Suhaya, mantan kepala desa Paku Alam. Menurut pemaparan bapak Yaya Suhaya arti kata dari Cipaku adalah benih peradaban dan pada kala itu Cipaku merupakan cikal bakal Kerajaan Sunda.

Kegiatan Residensi Pegiat Literasi berlokasi di Dusun Cisema, Desa Paku Alam, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang. Desa yang kami kunjungi saat ini adalah desa yang memiliki sejarah karena adanya Waduk Jatigede. Mendengar cerita dari warga desa yang rumahnya terendam air, pada saat penenggelaman masih banyak warga yang pindah.

“Ya bingung Neng, saya mau pindah kemana? Da lahan rumah baruna ge teu acan aya,” keluh Bu Eem warga desa Cipaku.

Menurut penuturan Ibu Lia, dana penggatian tanah yang tergusur air sudah dibayar pada zaman nenek moyang dahulu. Mereka terlalu terlena dan menganggap pembangunan Jatigede tidak akan terjadi.

Pada tahun 2013, dana penggantian lahan sudah cair. Sebagian warga yang menerima uang pengusiran, tidak siap menerima uang dengaan nominal besar. Mereka menghabiskan uang itu untuk foya-foya. Saat itu, motor dan mobil hilir mudik ramai. Mendadak banyak orang kaya baru bermunculan. Saat pemerintah akan melakukan penenggelaman warga banyak yang menangis bahkan psikologisnya terganggu karena belum siap pindah. Mereka belum ada lahan tetapi sudah tidak memiliki uang.

Air masuk menenggelamkan Cipaku, rumah-rumah, bangunan sekolah, lahan perkebunan dan persawahan, bahkan situs makam Prabu Aji Putih. Air dari waduk Jatigede ini berasal dari sungai Cimanuk, yang kita tahu panjangnya dari Garut sampai Indramayu.

Proyek Waduk Jatigede Sumedang Jawa Barat dirintis sejak era Presiden Soekarno pada tahun 1963. Daerah yang ditenggelamkan seluas 4.983 Ha terdiri 28 Desa dari 3 kecamatan. Wilayah yang cukup luas untuk dikorbankan menjadi waduk. Namun bukankah suatu hal kebaikan memang butuh pengorbanan?

Di waduk Jatigede terdapat mitos yang dipercaya oleh masyarakat sekitar adanya “keuyeup bodas” atau kepiting putih dan ular sepanjang 4 meter yang menguasai waduk Jatigede. Salah seorang penduduk bercerita, ada orang yang kebetulan pernah melihat “keuyeup bodas” itu. Ada pula masyarakat yang mengatakan mitos tentang adanya buaya putih. Jika buaya putih dan keuyeup bodas berkelahi lalu buaya kalah, maka Jatigede akan jebol. Setiap daerah memang memiliki cerita legendanya masing-masing.

Dampak dari penenggelaman air di Cipaku begitu berasa. Dari segi ekonomi, masyarakat sebagian beralih menjadi penjual di warung, mencari ikan bagi yang memiliki keahlian, dan sebagian masyarakat masih menganggur. Mata pencaharian mayoritas masyarakat sebelum waduk Jatigede dibangun adalah bertani. Selain itu, dampak lain yang timbul adalah psikologis mayarakat.

“Sedih nggak bisa ketemu temen-temen lagi. Nggak bisa main lagi. Pisah dengan saudara-saudara,” ungkapan seorang anak kelas 6 SD bernama Sherly Aisyah, yang sekolahnya terendam oleh air.

Di atas perahu yang melaju di waduk Jatigede, saya bisa merasakan kesedihan masyarakat yang rumahnya tenggelam oleh air bersama segala kenangan dan cerita di daerah yang terendam air. Tentu pengalaman ini menjadi renungan bagi saya dan teman-teman tentang pentingnya bersyukur dan harus tetap bangkit meskipun dalam keadaan keterpurukan.

Kenangan telah saya buat selama 4 hari berada di Kampung Literasi Lembur Calakan Buricak Burinong. Saya pulang membawa banyak pengalaman. Salam literasi!

dokumentasi pribadi penulis

Ulfah Wiliastuti

Relawan di TBM Arjasari Bandung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: